--> EDUCATION BLOG'S: FAUNA | Deskripsi Singkat Blog di Sini

Mari tambah pengetahuan dengan membaca

Showing posts with label FAUNA. Show all posts
Showing posts with label FAUNA. Show all posts

Tuesday, April 9, 2019

Flora dan Fauna Langka di Dunia dan Indonesia

Flora dan Fauna Langka di Dunia dan Indonesia


Flora Langka di Dunia
Tumbuhan langka di Dunia tidak kalah banyaknya, dan masih sangat banyak keanekaragaman yang memiliki bentuk menawan. Tanaman ini menjadi icon di dunia.
1. Welwitschia mirabilis

Flora dan Fauna Langka di Dunia dan Indonesia
Merupakan jenis tanaman tangguh asli dari Namibia. Tanaman ini hanya memiliki dua daun, sistem perakaran, dan batang. Batang tanaman semakin lama akan kian menebal dan daunnya juga bakal terus tumbuh. Tanaman ini tak bertambah tinggi, maksimal hanya mencapai 2 meter. Akan tetapi tanaman asli Namibia tersebut dapat melebar sampai dengan 8 meter. Umur tanaman panjang antara 400-15 abad. Dapat hidup tanpa guyuran hujan selama 5 tahun. Orang Namibia menyebutnya onyanga atau jika diartikan bernama bawang padang pasir, dapat diolah dan dimasak maupun dimakan dalam keadaan mentah.

2. Tanaman bola baseball

Flora dan Fauna Langka di Dunia dan Indonesia
Tumbuhan dengan nama latin euphorbia obese ini hanya dapat dijumpai di Great Karoo, Afrika Selatan. Bentuk tanaman yang unik, membuatnya banyak diambil oleh kolektor tanaman. 
Banyaknya tangan yang memburu tanaman ini sebagai koleksi, berdampak pada kerusakan populasi tanaman bola baseball.
Akhirnya pemerintah Afrika Selatan mengambil langkah untuk melindungi tanaman ini agar tidak punah dan semakin rusak.
3. Tanaman menari

Flora dan Fauna Langka di Dunia dan Indonesia

Mempunyai nama latin desmodium gyrans. Tanaman ini mendapat julukan dari Darwin yaitu hedysarum. Tanaman menari memiliki nama lain rumput menari atau dancing grass dan tanaman semaphore (semaphore plant).
Tanaman ini dinamai tanaman menari karena daunnya dapat bergerak seolah seperti tengah menari atau membuat gerakan semaphore. Tidak sulit menanam tumbuhan menari, hanya perlu cahaya matahari dan air secukupnya. Tidak membutuhkan pupuk khusus.


4. Tanaman kebangkitan

Flora dan Fauna Langka di Dunia dan Indonesia
Tanaman kebangkitan atau tanaman jericho mempunyai nama latin selaginella lepidophylla. Ini merupakan sejenis tanaman gurun. Dapat hidup di wilayah yang kering dan bertahan ketika terjadi kekeringan atau kemarau panjang.
Saat musim kering tiba, batang dari tanaman kebangkitan akan menggulung layaknya bola dan mengkerut, sedangkan tatkala musim hujan datang tanaman ini pun melepaskan diri dari gulungan dan normal kembali. Apabila ingin melihat tanaman ini, jumpai di kawasan gurun Cihuahua.
5. Pohon dinamit

Flora dan Fauna Langka di Dunia dan Indonesia
Pohon dinamit dengan nama latin hura brasiliensis, asalnya dari hutan Amazon. Banyak julukan yang disematkan pada pohon ini yaitu pohon neraka dan pohon kotak pasir (sandbox tree). Batangnya tertutup duri-duri yang tajam dengan getah pohon yang memiliki racun. Orang-orang setempat memanfaatkan getah yang beracum untuk melumuri mata panah. Pohon dinamit pun berbuah. Tetapi buah dinamit tidak seperti buah pada umumnya, lho. Apabila sudah matang, buah dinamit ini akan meledak! Ledakannya cukup kuat sampai-sampai dapat membuat hewan dan manusia yang tengah lewat dekat pohon dinamit luka. Karena buahnya yang mampu membuat ledakan, tanaman ini pun dinamai dengan pohon dinamit.




 Fauna Langka di Indonesia

1. Orang Utan Sumatera dan Kalimantan

Flora dan Fauna Langka di Dunia dan Indonesia

 

Orang utan, baik itu yang hidup di pulau Sumatera atau Kalimantan juga termasuk spesies yang sangat terancam punah. Menurut laporan IUCN, selama 75 tahun terakhir populasi orangutan Sumatera telah mengalami penurunan sebanyak 80%. Dalam kurun waktu 1998 dan 1999, laju kehilangan tersebut dilaporkan mencapai sektar 1000 orangutan per tahun. Sementara itu, pada tahun 2004, ilmuan memperkirakan bahwa total populasi orangutan di Pulau Borneo, baik di wilayah Indonesia maupun Malaysia terdapat sekitar 54 ribu individu. Kebalikan dari orangutan Borneo, orangutan Sumatera mempunyai kantung pipi yang panjang pada orangutan jantan.

 

2. Harimau Sumatera

Flora dan Fauna Langka di Dunia dan Indonesia

Mungkin saat ini jumlah populasi Harimau Sumatera tak lebih dari 300 ekor saja, sehingga menurut WWF spesies yang merupakan satu dari enam sub-spesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis atau hewan langka yang terancam punah (critically endangered). Warna kulit harimau Sumatera merupakan yang paling gelap dari seluruh harimau, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga oranye tua. Tubuhnya juga relatif paling kecil dibandingkan semua sub-spesies harimau yang hidup saat ini. Semakin sempitnya luas habitat karena aktivitas pembukaan lahan, membuat mereka semakin terancam punah.

 

3. Komodo

Flora dan Fauna Langka di Dunia dan Indonesia

 

Habitat komodo (Varanus komodoensis) di alam bebas telah menyusut akibat aktivitas manusia dan karenanya IUCN memasukkan komodo sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan. Biawak besar ini kini dilindungi di bawah peraturan pemerintah Indonesia dan sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Komodo, didirikan untuk melindungi mereka. Habitat utama kadal raksasa ini hanya ada di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Komodo pertama kali didokumentasikan oleh orang Eropa pada tahun 1910. Nama hewan karnivora ini semakin dikenal dunia setelah tahun 1912 Pieter Antonie Ouwens, direktur Museum Zoologi di Buitenzorg (kini Bogor), menerbitkan paper tentang komodo setelah menerima foto dan kulit reptil ini.

 

4. Burung Jalak Bali

Flora dan Fauna Langka di Dunia dan Indonesia

 

Jalak Bali ditemukan pertama kali pada tahun 1910. Nama ilmiah Jalak Bali dinamakan menurut pakar hewan berkebangsaan Inggris, Walter Rothschild, sebagai orang pertama yang mendeskripsikan spesies ini ke dunia pengetahuan pada tahun 1912. Jalak Bali hanya ditemukan di hutan bagian barat Pulau Bali. Burung ini juga merupakan satu-satunya spesies endemik Bali dan pada tahun 1991 dinobatkan sebagai lambang fauna Provinsi Bali. Keberadaan hewan endemik ini dilindungi undang-undang. Untuk mencegah terjadi ancaman kepunahan yang makin erius, sebagian besar kebun binatang di seluruh dunia menjalankan program penangkaran jalak Bali (Leucopsar rothschildi).

 

5. Badak Jawa dan Sumatera

 
Flora dan Fauna Langka di Dunia dan Indonesia

Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dan Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) juga menjadi perhatian penting bagi pemerintah dan para pecinta lingkungan. Badak sumatera (Sumatran rhino) dan Badak Jawa (Javan rinho) merupakan dua dari 5 spesies badak yang masih mampu bertahan dari kepunahan, selain badak india, badak hitam afrika, dan badak putih afrika. Namun, kedua badak ini sudah masuk dalam kategori sangat terancam atau critically endangered. Status konservasi critically endangered ini disandangkan pada spesies badak di Indonesia sejak 1996.

Monday, August 15, 2011

no image

Kelelawar Penghisap Darah Mulai Incar Manusia

 
Seorang remaja asal Meksiko menjadi orang pertama di Amerika Serikat yang tewas akibat kelelawar penghisap darah. Yang mengkhawatirkan, Centers for Disease Control (CDC) menyebutkan bahwa kelelawar itu kemungkinan akan menyebar ke seluruh negeri.

Pekerja migran berusia 19 tahun itu terkena rabies akibat digigit kelelawar di bagian tumitnya, 15 Juli 2010 lalu. Ia digigit di Michoacan, 10 hari sebelum berangkat ke Amerika Serikat untuk bekerja di pabrik gula, di Louisiana.

“Kasus ini merupakan kasus pertama di mana manusia tewas akibat gigitan dan  terkena virus rabies yang ditularkan oleh kelelawar penghisap darah di Amerika Serikat,” sebut laporan CDC, seperti dikutip dari Fox News, 15 Agustus 2011.

Dilaporkan, remaja itu jatuh sakit dua minggu setelah digigit karena tidak diberi vaksinasi rabies. Ia sendiri pergi berobat dengan keluhan sakit di bahu, kelelahan, gangguan di mata kiri, dan mati rasa di lengan kiri. Selain itu, ia juga mengalami masalah pernafasan dan panas tinggi.

Pada 20 Agustus, ia secara resmi didiagnosa menderita rabies. Dari penelitian terhadap jaringan otak setelah kematiannya, dikonfirmasikan bahwa penyebabnya adalah varian virus rabies yang disebarkan oleh kelelawar penghisap darah.

Meski kelelawar jenis ini umumnya ditemukan di Meksiko, Brazil, Chile, dan Argentina, namun dari penelitian, kawasan penyebaran hewan ini terus meluas akibat perubahan iklim.

“Meluasnya penyebaran kelelawar penghisap darah ke kawasan Amerika Serikat kemungkinan akan memicu meningkatnya serangan hewan ini terhadap manusia dan hewan, termasuk hewan peliharaan, ternak, dan hewan liar,” sebut CDC.

Selain itu, CDC menyebutkan, kelelawar ini juga akan mengubah dinamika dan ekologi virus rabies di kawasan selatan Amerika Serikat.
no image

13 Katak Bertaring Ditemukan di Sulawesi

 

 JimBen Evans, pakar hewan dari McMaster University di Hamilton dan ilmuwan Indonesia menemukan 13 spesies katak bertaring di Sulawesi. Sejumlah 9 dari 13 spesies itu belum pernah ditemukan sebelumnya. Penemuan ini dilaporkan dalam jurnal The American Naturalist bulan ini.
Katak bertaring termasuk dalam genus Limnocetes, disebut bertaring karena memiliki tonjolan tulang di rahang bawah. Taring yang dimaksud bukan berarti gigi taring yang sebenarnya, sebab tak memiliki akar gigi atau ciri-ciri gigi lainnya.
Dalam papernya, Evans menulis, seluruh spesies katak bertaring yang ditemukan memiliki variasi adaptasi yang berbeda, sesuai kondisi lingkungan dan iklim mikro masing-masing, mulai dari yang terbasah hingga terkering dan dengan beragam vegetasi yang ada.
Beberapa spesies punya kaki berselaput tebal untuk beradaptasi dengan arus sungai yang deras. Sementara yang lain berselaput tipis, sesuai dengan lingkungan darat. Yang unik, ada katak yang melakukan fertilisasi internal, meletakkan telurnya jauh dari air dan mengawasinya.
"Penemuan ini menjadi contoh bagus bagaimana spesies pada akhirnya menggunakan taktik yang sama untuk survive dan melakukan diversifikasi ketika diberi kesempatan," kata Evans seperti dikutip CBCnews, Jumat (12/8/2011).
Evans mengatakan bahwa berdasarkan hasil penelitian, tak ada genus katak lain di Sulawesi yang bisa berkompetisi dengan genus katak bertaring. Ini menjadi bukti bahwa katak bertaring berevolusi untuk mengisi kekosongan relung kehidupan yang ada di Sulawesi.
Sampai saat ini, ilmuwan belum mengetahui manfaat taring pada katak genus ini. Beberapa kemungkinan adalah sebagai senjata melawan pejantan lain untuk mempertahankan wilayah, menangkap mangsa seperti ikan dan serangga serta sebagai senjata melawan predator.
Untuk menemukan katak ini, Evans dan timnya harus melakukan ekspedisi di sepanjang sungai dan hutan dengan resiko gigitan ular berbisa. Hasilnya, ada 683 ekor katak yang berhasil ditangkap. Peta distribusi katak lalu dibuat, sekaligus perbandingan ciri katak dengan lingkungannya.
Saat ekspedisi, Evans berusaha menangkap katak di hutan yang belum tersentuh illegal logging. Namun, ia mengatakan, "Ada banyak hutan dimana kami mengambil sampel yang kemudian hilang ketika kami mengunjunginya beberapa tahun kemudian."
Sejauh ini, Evans mengatakan belum ada dari spesies yang ditemukan punah. Tapi ia mempercayai, distribusi katak-katak tersebut telah berkurang. Perlu usaha pelestarian lingkungan untuk menjaga katak-katak ini tetap eksis.

Saturday, August 13, 2011

Dracunculus Medinensis, Cacing Yang Mampu Menggerogoti Daging Manusia Hingga Berlubang

Dracunculus Medinensis, Cacing Yang Mampu Menggerogoti Daging Manusia Hingga Berlubang

Dracunculus Medinensis atau disebut juga sebagai Cacing Guinea, adalah jenis cacing yang mampu menyerang manusia dengan cara masuk, hidup didalam tubuh dan menggerogoti daging manusia hingga berlubang.



Cacing Dracunculus Medinensis ini banyak berkembang biak di wilayah Afrika dan banyak memakan korban antara tahun 1800an hingga era 1980an yang sudah memasuki era kedokteran modern


Cacing ini masuk kedalam tubuh korbannya melalui air minum yang tidak masak dan mengandung cacing hidup atau telur cacing. Cacing akan berkembang biak didalam tubuh korbannya, hal ini masih mempunyai kemiripan seperti halnya cacing yang menyerang pencernaan


Cacing ini akan memasuki usia dewasa pada usia sekitar 10 bulan hingga 13 bulan. Cacing dewasa ini akan mulai secara signifikan menggerogoti daging korbannya dari dalam dalam upayanya untuk mendapatkan jalan keluar dari tubuh manusia yang menjadi korbannya.


Proses penggerogotan dan upaya si cacing keluar ini membuat bagian kulit luar korban tumbuh semacam bisul di jalan keluar cacing. Saat sang cacing keluar bisul tersebut pecah. Pada masa-masa tersebut korban akan mulai merasa demam dan juga terdapat rasa terbakar pada bisul yang pecah tersebut.


Rasa panas ini akan memicu korban merendam tubuhnya di sungai, kolam, danau atau penyimpanan air. Upaya ini justru membuat cacing lebih leluasa dalam berkembang biak, cacing akan melepas telurnya kedalam air dan bibit-bibit cacing akan berkembang didalamnya.


Masyarakat Afrika secara tradisional biasanya mengeluarkan cacing dengan menggulung cacing yang mulai keluar sedikit demi sedikit dengan menggunakan lidi, ranting kecil atau batang korek api (lihat pada gambar). Cacing biasanya akan tergulung habis dalam 2 hingga 5 minggu.


Cacing ini dapat tumbuh hingga mencapai panjang 50cm, dan pertumbuhannya cukup pesat dapat bertumbuh 1 hingga 2 sentimeter per minggu.


Beruntunglah dengan meningkatnya kesadaran masyarakat Afrika mengenai perlunya mengkonsumsi air bersih, serangan akibat cacing Dracunculus Medinensis inipun perlahan namun pasti menjadi sirna.


Cacing ini memang tidak secara langsung membunuh korbannya. Korban yang mati biasanya akibat infeksi akut pada luka/borok yang ditimbulkan cacing, yang dibiarkan menganga dan tidak terjaga kebersihannya


Namun demikian hingga saat ini serangan cacing jenis ini termasuk salah satu serangan cacing yang menimbulkan kesan paling horor dan menyeramkan bagi korban atau orang lain yang melihatnya. Masih adakah penyakit akibat cacing yang mengerikan selain ini? Jawabannya: Masih ada! ikuti terus artikel AstroDigi . . .

Friday, August 12, 2011

no image

Beruang Kecanduan Minuman Keras

 
 
Manusia kecanduan minuman keras, mungkin sudah biasa kita mendengarnya. Namun, bagaimana jika yang kecanduan minuman keras itu adalah beruang.

Bebarapa beruang di Ukraina disinyalir telah kecanduan minuman keras. Beruang-beruang itu merupakan binatang peliharaan dan sering digunakan untuk kepentingan hiburan.
Awalnya, para pengunjung hiburan binatang di Ukraina sering memberikan minuman keras kepada beruang-beruang ini. Namun mereka tak menyadari dampaknya bagi beruang-beruang ini. Hasilnya, beruang-beruang ini menjadi kecanduan.
Sebagaimana dilansir wanderlust.co.uk, Menteri Lingkungan Ukraina, Mykola Zlochevsky berjanji akan membebaskan puluhan beruang yang dipelihara untuk kepentingan hiburan itu. Kementriannya mengindentifikasi setidaknya ada 80 beruang yang disekap dalam kondisi buruk dan seringkali diberi minuman keras.
Pemerintah Ukraina berjanji akan menempatkan beruang-beruang itu pada sebuah lahan berpagar di taman satwa untuk menampung beruang-beruang setelah dibebaskan.Lihat videonya di sini.
no image

Ikan Cod, Obat Penyakit Multiple Sclerosis

 
Para peneliti di Skotlandia telah menemukan obat penyakit kekebalan tubuh pada manusia. Vaksin tersebut ditemukan dalam tubuh ikan Cod. Para peneliti berharap temuan ini dapat menghasilkan vaksin yang lebih baik untuk budidaya ikan Cod - melindungi stok ikan menurun - dan bahkan dapat membuka jalan baru penelitian medis untuk penyakit manusia.

"Patogen adalah tantangan utama untuk budidaya ikan dan vaksinasi adalah pendekatan utama untuk melindungi dari penyakit," kata Christopher Secombe, kepala Pusat Penelitian Imunologi Ikan Skotlandia, seperti dikutip dari Guardian, 11 Agustus 2011. “Penelitian baru akan membantu mereka untuk melakukan penelitian vaksin secara lebih efektif,” ucapnya.

Tim peneliti menemukan bahwa Cod Atlantik tidak memiliki set gen terkait kekebalan yang disebut Major Histocompatibility Complex (MHC) kelas II yang ditemukan pada hewan hampir semua hewan bertulangpunggung. MHC atau kompleks histokompatibilitas utama adalah wilayah genomik besar atau keluarga gen yang ditemukan dalam kebanyakan vertebrata yang mengkode molekul MHC. Molekul MHC memainkan peran penting dalam sistem kekebalan tubuh dan autoimunitas.

Dalam spesies lain, gen ini berkontribusi terhadap kemampuan sistem kekebalan untuk mengenali bakteri dan parasit yang menyerang. "Kami tidak dapat menemukan MHC kelas II dan juga dua gen lain yang penting untuk perlindungan terhadap bakteri patogen dan parasit lain yang datang dari luar," kata Profesor Kjetill Jakobsen dari Universitas Oslo di Norwegia, yang memimpin penelitian.

Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Nature ini membuka kemungkinan baru untuk pengobatan penyakit manusia.

"Hal ini memiliki beberapa implikasi untuk penelitian medis. Saya telah berbicara di rumah sakit utama di Oslo dan ada ratusan dokter yang berdiskusi dengan saya seputar Cod," kata Jakobsen. "Mungkin kita bisa mengatur sistem kekebalan tubuh manusia yang berbeda dan mungkin Cod dapat mengobati penyakit tertentu, misalnya multiple sclerosis," ucapnya.

Sebagai informasi, Cod Atlantik telah berevolusi untuk bertahan hidup tanpa satu set gen. Menurut para ilmuwan, hal tersebut sangat penting untuk sistem kekebalan tubuh. Selain itu, Cod adalah salah satu dari lima spesies ikan yang paling umum dikonsumsi di Inggris. Konsumen Inggris menghabiskan lebih dari 313,3 juta poundsterling atau sekitar Rp4,3 triliun untuk membeli ikan Cod pada tahun 2010 lalu.

Ilmuwan berharap, temuan tersebut juga memungkinkan pengembangan vaksin yang lebih baik untuk budidaya Cod Atlantic.

Wednesday, August 10, 2011

no image

Tikus Cerdik Oleskan Racun di Jambulnya


Seekor tikus afrika berjambul (Lophiomys imhausi) mengembangkan metode cerdik untuk menggagalkan predator yang ingin menangkapnya. Tim peneliti gabungan dari Inggris, Amerika Serikat, dan Kenya menjumpai tikus ini mengunyah akar dan batang pohon beracun tinggi serta mengoleskan zat beracun ini pada bulu halus di jambulnya.
Binatang yang akan menyerang akan disambut sejumlah bulu mengandung racun yang mematikan. Prof Jonathan Kingdon dari Universitas Oxford mengatakan, timnya masih menjumpai pekerjaan rumah mengenai cara tikus itu bertahan dari racun mematikan ini.
Racun didapat dari tumbuhan Acokanthera schimperi yang biasa dioleskan pada panah beracun pemburu tradisional setempat untuk membunuh gajah. "Tikus memastikan bagian jambul adalah yang pertama kali diserang predator," kata Kingdon seperti dikutip BBC, Rabu (3/8/2011).
Saat tikus terancam predator serigala, kucing liar, dan macan tutul, ia tidak lari. Namun, ia mengeraskan rambutnya dan menunjukkan sikap berani. Predator yang nekat menerkamnya bakal mendapat rambut tajam yang beracun.
no image

Burung Langka Mencari Rumah di Jakarta

 
 
Cikalang Christmas (Fregeta andrewsi), salah satu burung laut paling langka di dunia telah menemukan 'tempar tinggal' kedua di Teluk Jakarta. Hidup di antara perangkap ikan dan sampah yang mengambang di salah satu perairan tersibuk di Indonesia mungkin bukan rumah yang ideal untuk setiap burung. Tetapi Cikalang Christmas tampaknya menyukai keadaan tersebut. Ratusan burung jenis ini sering berkumpul di sekitar Pulau Rambut, kurang lebih 4 km lepas pantai dari Jakarta.
Antara 10-20 persen dari populasi Burung Cikalang Christmas di dunia secara teratur hadir di Teluk Jakarta. Sebelumnya hampir tidak ada yang mengetahui tentang burung ini serta risiko yang tengah mereka hadapi. Clkalang Christmas merupakan burung laut dengan ciri warna bulu hitam, bentuk besar, dan ekor bercabang panjang. Kini burung tersebut berada dalam bahaya kepunahan. Hanya sekitar 3.000-4.000 individu burung yang masih hidup di dunia. Burung yang dikenal sebagai Cikalang di Indonesia ini berkembang biak di Pulau Christmas (Australia), sekitar 300 km.selatan bagian Jawa Barat.
Burung yang berkembang biak di Pulau Christmas ini tampaknya lebih suka mencari makanan di perairan Indonesia, khususnya Selat Sunda dan Teluk Jakarta. Teluk Jakarta dan Sunda Selat merupakan habitat penting untuk Burung Cikalang Christmas. Namun, hampir tidak ada yang mengetahui tentang risiko hidup di situ. Yaitu bahwa daerah yang mereka sukai itu tidak memiliki perlindungan hukum setara dengan cagar alam. lni dapat menyebabkan terjadinya perburuan, polusi, dan kemungkinan terjebak dalam perangkap ikan yang tersebar di beberapa bagian dari Teluk Jakarta.
Adanya kemungkinan risiko-risiko tersebut selanjutnya akan dicari dan dinilai dalam sebuah kegiatan baru yang dipimpin oleh LSM lokal Burung Laut Indonesia (Seabirds Indonesia), sebagai bagian dari 'Survey Burung Laut Indonesia' (Indonesia Seabirds Survey -ISSUE). Mulai Juli 2011 hingga Juli 2012, tim akan memantau kehadiran Burung Cikalang Christmas, menilai ancaman terhadap burung-burung, dan memasukkan langkah-langkah untuk melindungi mereka.
"Antara 10-20 persen dari populasi Burung Cikalang Christmas di dunia secara teratur hadir di Teluk Jakarta. Sebelumnya hampir tidak ada yang mengetahui tentang burung ini serta risiko yang tengah mereka hadapi. Kegiatan ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai ancaman mereka dan mencoba bekerja untuk meningkatkan perlindungan untuk burung-burung ini," ujar Man Febrianto, pemimpin kegiatan survei dalam siaran persnya, Rabu (10/8/2011).
Fransisca Noni, salah satu anggota tim, menyatakan perlunya partisipasi masyarakat dalam menjaga keberlanjutan hidup Cikalang. "Seharusnya kita menyadari bahwa salah satu burung laut terlangka di dunia hidup di Jakarta. Dan sepatutnya kita bangga akan hal ini. Sayangnya sampai sekarang kita belum melakukan apa-apa untuk melindungi burung ini," tegasnya,
Tim akan bekerjasama dengan warga lokal, termasuk nelayan, pemilik perangkap ikan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat, manajemen pelabuhan, dan operator kapal untuk menggambarkan rincian ancaman terhadap burung-burung dl Teluk Jakarta. Tim juga akan berkolaborasi dengan kelompok-kelompok yang juga merniliki misi untuk meningkatkan konservasi Burung Cikalang Christmas di Teluk Jakarta, relawan, dan organisasi Non Pemerintah lokal (LSM), serta klub pengamat burung kampus untuk membantu dan belajar tentang konservasi burung laut.

Monday, August 1, 2011

no image

Misteri Kura-kura Selamat dari 'Kiamat'

 
Dinosaurus mungkin pernah menjadi penguasa dunia dengan badan besar, cakar tajam, dan giginya yang mengerikan. Namun, saat mereka akhirnya punah dari muka Bumi, kura-kura Boremys yang sederhana justru selamat dari serangan meteorit yang menghantam Bumi 65 juta tahun lalu.

Buktinya adalah sebuah fosil yang ditemukan oleh palaeontolog Amerika Serikat di formasi batuan di North Dakota dan Montana menjadi bukti. Fosil tersebut diperkirakan milik mahluk yang hidup di periode pasca serangan meteor: Kura-kura air.

Apa rahasianya Kura-kura bisa bertahan hidup? Menurut pada ilmuwan, itu bukan karena cangkangnya yang keras. Tapi, fakta bahwa mereka tidak serakah.

Metabolisme mereka yang lamban menjadi kunci bertahan hidup di periode pasca serangan meteor. Di mana hanya sedikit makanan yang tersisa. Mereka juga terlindungi oleh air, yang jadi satu dari dua habitat mereka.

"Kura-kura adalah hewan yang tangguh, mereka mempu bertahan di masa-masa sulit," kata Tyler Lyson dari Yale University kepada LiveScience. Selain itu, "hewan yang hidup di air terlindungi dari apapun yang bisa membunuh tanaman darat dan Dinosaurus."

Kebiasaan kura-kura juga jadi kunci penting yang menyelamatkan. Saat kondisi dingin, kura-kura akan berhibernasi. Namun, ketika sangat panas atau kering, kura-kura air akan mengubur dirinya di lumpur -- menunggu kondisi normal. Ini yang mungkin mereka lakukan saat periode kemusnahan Dinosaurus.
Meteor penyebab mass extinction, fenomena musnahnya dinosaurus.

Untuk diketahui, meteorit yang memusnahkan Dinosaurus memiliki lebar antara enam sampai sembilan mil, yang menghantam Semenanjung Yukatan, di selatan Meksiko. Tubrukan itu melepaskan sekitar 100 juta megaton energi. Masa itulah yang kemudian dikenal sebagai K-T Boundary -- periode kemusnahan massal mahluk hidup.

Para ilmuwan menemukan binatang-binatang tang selamat dari 'kiamat' itu dengan cara mencarinya di antara bebatuan yang memiliki keunikan geologis.

Kala itu, hampir seluruh hewan darat tersapu bersih, musnah. Termasuk jenis penyu. Namun, Kura-kura Boremys -- khususnya famili Baenid luput. "Hewan kecil yang memiliki metabolisme lambat dan hidup di air, mereka bertahan dengan baik di K-T Boundary," tambah Lyson. "Di dalam air, sebelum dan setelah tubrukan meteor, semua berlangsung seperti biasa."

Namun, Kura-kura Boremys pun akhirnya menyerah pada alam dan waktu. Mereka akhirnya punah sekitar 40 juta tahun lalu -- setelah sempat hidup sekitar 85 juta tahun di Bumi.

Para ilmuwan menduga, hewan tersebut punah karena dimangsa predator. Salah satu alasannya, mereka tak bisa menyembunyikan kepalanya di cangkang -- kemampuan yang dimiliki Kura-kura modern.
no image

Ikan 'Kepala Buaya' di Kolam Majapahit

Seekor ikan dengan kepala mirip buaya ditemukan Suparto, warga Mojokerto, Jawa Timur. Ikan ini ditemukan pada Selasa, 19 Juli 2011 di Kolam Segaran yang merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit.

Suparto menemukan ikan ini saat memancing. Dia mengaku terkejut karena menduga umpan yang dia lempar dimakan oleh buaya. Tapi, ternyata yang memakan adalah seekor ikan.

Suparto sebenarnya bukan orang yang pertama kali menemukan ikan jenis ini. Tahun 2009 lalu warga Sukolali, Surabaya juga menemukan ikan sejenis. Selain itu, Jawa Barat, dan di Tegal pada 2011 ini juga ditemukan ikan berkepala mirip buaya ini.

Ikan berkepala mirip buaya ini adalah jenis alligator gar atau bahasa latinnya Lepisosteusidae yang merupakan spesies asli Amerika Utara. Ikan ini merupakan predator yang sangat agresif memangsa ikan-ikan kecil lainnya.

Belum diketahui, bagaimana ikan-ikan ini bisa sampai ke sungai-sungai di Indonesia, termasuk di kolam peninggalan Majapahit ini.

Wednesday, July 27, 2011

no image

Kucing Juga Bisa Menggonggong

 

Seekor kucing terekam kamera saat mengeluarkan suara seperti anjing menggonggong. Ahli perilaku hewan Nicholas Dodman menjelaskan kejadian tersebut secara ilmiah.
Menurut Dodman, susunan laring, trakea, dan diafragma kucing cukup mirip dengan susunan pada anjing. "Saat beroperasi pada kondisi tertentu, kucing bisa menghasilkan suara mirip gonggongan," jelas Dodman yang juga profesor di Cummings School of Veterinary Medicine di Tufts University.
Gonggongan tersebut, seperti dijelaskan Dodman, diakibatkan aliran udara yang tiba-tiba di saluran udara. "Kucing yang terlalu gembira bisa menghasilkan suara itu. Mirip dengan meong yang dipaksakan," katanya.
Kucing tersebut juga kemungkinan belajar mengeluarkan suara gonggongan dari anjing. "Bisa saja menirukan suara yang sering didengarnya," kata Dodman kepada Life's Little Mysteries.
Dalam video yang dilihat lebih dari 4 juta kali di YouTube, kucing itu mengeluarkan suara seperti gonggongan ke arah jendela. Saat melihat pemiliknya merekam, kucing kembali mengeluarkan suara meong.
no image

Keragaman Spesies Mekongga Memukau Dunia


Tim peneliti dari University of California-Davis, Amerika Serikat, terpukau dengan beragamnya keanekaragaman hayati yang mereka temukan di Pegunungan Mekongga, Sulawesi Tenggara. Dari hasil penelitian sementara, tim tersebut menyimpulkan bahwa Pegunungan Mekongga merupakan salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia.
"Selama penelitian di Mekongga, kami menyaksikan keanekaragaman (hayati) yang luar biasa," kata Professor Lynn Kimsey, Sabtu (23/7/2011). Lynn merupakan salah satu ahli entomologi (serangga) yang selama sebulan terakhir melakukan penelitian bersama tim dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Pegunungan Mekongga.
Lynn menambahkan, selama meneliti di pegunungan yang terletak di Kabupaten Kolaka dan Kolaka Utara, Sultra, itu ia berhasil mengumpulkan 100.000 sampel serangga. Dari jumlah itu, Lynn memprediksi separuhnya merupakan jenis baru yang belum pernah ditemukan sebelumnya.
Direktur Bohart Museum UC-Davis tersebut juga menambahkan, dibandingkan beberapa tempat yang pernah ditelitinya, seperti Cile, Panama, Papua, dan Australia, serangga-serangga yang ditemukan di Mekongga memiliki karakter unik. "Misalnya, kami menemukan lebah raksasa terbesar di dunia (sepanjang 4 cm) yang tak ditemukan di tempat lain," ujarnya.
Selama sebulan terakhir, tim gabungan LIPI dan UC-Davis ini melakukan penelitian lanjutan di Pegunungan Mekongga dalam kerangka International Cooperative Biodiversity Group-Indonesia yang telah berlangsung sejak 2009. Penelitian ini dimaksudkan untuk mendata keanekaragaman hayati Pegunungan Mekongga dan melihat prospek flora dan fauna yang bisa dimanfaatkan untuk obat-obatan, sumber energi, ataupun penanganan hama penyakit.
Selain Lynn, terdapat dua ahli lainnya dari UC-Davis, yakni Bob Kimsey (entomologi) dan Alan Thomas Hitch (ekologi vertebrata). Adapun tim dari LIPI terdiri dari 18 ahli flora dan fauna, seperti ahli mamalia, tumbuhan, reptil, burung, dan ikan, yang salah satu pemimpin timnya adalah ahli botani LIPI, Elizabeth A Widjaja.

Thursday, May 5, 2011

no image

Capung Langka Padang Pasir Muncul di Inggris

 
Udara panas yang melanda Inggris ternyata membawa ‘penumpang’ yang tidak diharapkan sebelumnya. Di kota Penryn, di bagian selatan Inggris ditemukan sejumlah capung langka yang umumnya hidup di kawasan gurun pasir yang panas.

Capung bernama Vagrant Emperor itu umumnya berkembang biak di gurun Sahara. Kemungkinan, ia tertiup sedemikian jauh, hingga lebih dari 3000 kilometer oleh hembusan angin dari badai kencang yang terjadi di padang pasir.

Larva capung ini juga berhasil tumbuh besar dengan cepat dan pemunculan serangga terbang berwarna coklat itu menarik perhatian. Salah satu alasannya, seperti dikutip dari Falmouth Packet, 2 Mei 2011, pada periode yang sama, capung asli Inggris belum tumbuh dewasa.

Sebelum ini, Emperor merupakan satu-satunya spesies capung yang ditemukan di Islandia dan diketahui telah menyebrangi samudera Atlantik dan mencapai kepulauan Karibia.

Disebutkan, seekor capung padang pasir ditemukan sedang beristirahat di kawasan Penryn pada 16 April lalu. Penampakan seekor Vagrant Emperor juga terjadi sehari sebelumnya di kawasan Plymouth, sekitar 73 kilometer dari Penryn. Namun ketika itu capung yang ditemukan berjenis kelamin jantan.

Capung jantan dan betina dari spesies itu memiliki warna coklat. Pejantan dapat dibedakan dengan adanya bagian berwarna biru terang di dekat bagian berut, tepat di sisi kedua sayapnya.
no image

Mengapa Kelelawar Bersembunyi Saat Hujan

 
Beberapa jenis kelelawar tetap mampu terbang di kondisi gerimis ringan. Namun saat hujan semakin lebat, mereka segera mencari tempat perlindungan. Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Biology Letters mengungkapkan alasan mengapa kelelawar melakukan itu.

Ternyata, kelelawar harus berusaha lebih keras agar bisa terbang ketika bulu-bulu dan sayap mereka basah.

Dalam serangkaian penelitian yang dilakukan di Costa Rica, peneliti mempelajari perilaku kelelawar Sowell (Carollia sowelli) berekor pendek, spesies kelelawar dari keluarga Phyllostomidae yang umum ditemukan di sekitar Meksiko, Amerika tengah, sampai ke Panama saat mereka terbang di penangkaran berukuran luas.

Sesekali, dikutip dari Science Now, 4 Mei 2011, peneliti membasahi kelelawar-kelelawar itu dengan air ledeng, kadang membiarkan kelelawar tersebut terbang berbasah-basah di bawah curah air hujan.

Dari penelitian terungkap bahwa kelelawar itu menggunakan energi dua kali lipat lebih besar saat mereka terbang dalam kondisi basah dibandingkan dengan jika mereka terbang dalam kondisi kering.

Terbang pada kondisi hujan juga tidak berbeda. Ini menghapuskan dugaan adanya masalah mekanik yang diakibatkan oleh tetesan air hujan yang jatuh di sayap mereka ataupun beratnya tetesan air yang harus mereka tanggung.

Menurut peneliti, kelelawar basah, sama seperti mamalia lain yang tengah basah, merasa kedinginan. Untuk itu, mereka perlu bekerja lebih keras agar tubuh mereka tetap hangat. Selain itu, dengan banyaknya air membasahi bulu dan melembabkan sayap mereka, kondisi basah kuyup juga tentunya membuat kelelawar menjadi tidak aerodinamik untuk mengudara.

Thursday, April 28, 2011

no image

Paus Bungkuk Navigator Hebat di Lautan


Menurut hasil proyek pengamatan selama 8 tahun, paus bungkuk menggunakan posisi Matahari, medan magnet Bumi, dan bintang sebagai pemandu perjalanan. Paus bungkuk bisa menempuh perjalanan sejauh 16.000 kilometer dan bisa menempuh jalur lurus selama beberapa minggu.
"Padahal mereka harus melalui pusaran air, tapi mereka tetapi bisa berenang lurus," kata ilmuwan lingkungan dari University of Canterbury, Selandia Baru, Travis Horton. "Mereka menggunakan hal lain di luar tubuh mereka," kata Horton yang penelitiannya terbit di Biology Letters pada 20 April.
Paus bungkuk mencari makan selama musim panas di lautan daerah kutub. Saat musim dingin, mereka bermigrasi ke lautan tropis. Saat itu pula mereka kawin dan bereproduksi. Sekali jalan, mereka bisa menempuh jarak 8.000 kilometer, membuat mereka menjadi hewan dengan jarak migrasi terjauh di Bumi.
Untuk penelitian, Travor dan timnya memasangkan alat bertenaga baterai yang memberikan informasi lokasi. Berdasarkan pengamatan, tak peduli arus air, badai, dan penghalang lain, jalur paus bungkuk tidak pernah menyimpang lebih dari 5 derajat salah bermigrasi. Sekitar separuh paus yang diamati, hanya menyimpan 1 derajat bahkan lebih kecil.
"Mengagumkan betapa jalur mereka sangat lurus," kata ahli biologi bahari Alex Zerbini dari National Oceanic and Atmospheric Administration. "Kami penasaran untuk mengetahui cara mereka melakukan hal itu," tambahnya.
Sudah puluhan tahun, ada penelitian mengenai migrasi satwa yang menggunakan magnet Bumi dan pelacakan Matahari. Tapi keduanya biasa dipakai oleh unggas. Paus bungkuk sepertinya tidak hanya mengandalkan kedua metode tersebut. Horton memperkirakan kalau paus bungkuk juga menggunakan posisi bulan atau bintang.